Tampilkan postingan dengan label sanjak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sanjak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2015

JARAK



kalimat apa yang mesti kusampaikan
ruang panjang tak bersekat itu memberitahuku
kau sedang ingin berlama-lama berdoa
menemukan tuhan yang sembunyi dalam tubuhmu
lalu aku menulis surat dengan huruf dari remah jantungku
supaya detaknya sampai kepadamu
yang barangkali menutup mata, dari cahaya
denyut kehidupan yang mestinya diterima
aku sedang memikirkan semua itu
ketika seseorang datang dan menyampaikan jeritanmu
kau di mana?
suara itu panjang melengking dan jutaan tahun cahaya jauhnya


Boja, Januari 2014


 

Selasa, 17 Maret 2015

dalam menunggu

ada yang berdentang, seperti dunia yang diulang-ulang
aku tak menutup telingaku, membiarkan suara seperti nyamuk-nyamuk bagi sebuah rumah
apa kau mengatakan sesuatu, aneh aku tidak mendengarnya
apa kau menanyakan sesuatu? oh, tidak, itu suaraku sendiri
di jendela ada kegelapan. di langit ada kegelapan
udara diliputi suara-suara
apa tidak bisa kita bergegas saja

seperti kunang-kunang,
pertanyaanku luput dari umur panjang


Boja, Maret 2015



Jumat, 29 Agustus 2014

penunggu kabar


kau yang pernah menguji kedekatan dengan tuhan, kini apa kabar
aku pernah berjalan di sana
suatu sore dengan jam yang menunggu
orang-orang menabrakku tapi kamu tidak
aku tersungkur di aspal, sisa matahari yang perih
orang-orang menolongku, tapi kamu tidak
dari mataku sepasang tangan melambai padamu
dengan telingamu seluruh suara sama asingnya
kamu bilang tunggu saja, akan datang langkah-langkahmu,
menemuiku di jalan tuhan yang lain
tapi aku menunggumu sekarang
gemetar rumahmu, gemetar kamu
puluhan tahun kemudian kita melupakan segalanya
perihal kabar tak akan memberikan apa-apa

2014

melewati hari ini


kau sebutir telur, aku sepasang tangan yang kehilangan tulang
belum sempat kuimpikan, telah pecah kau oleh tangan lain
penyesalan tak menyelesaikan apa-apa, ketawa tak menyembuhkan apa-apa
gerimis yang ragu, setiap hari kita berlindung di atap yang sama
pulanglah kita sebelum hujan seharusnya
tapi aku tak bisa membawamu yang telah leleh, sebab tanganku lebih leleh
kita pulang bersama, dengan cara tak sama
kau kesepian, aku ketakutan
kita tak bisa memilah jalan mana tak berlubang
ketahuilah, mata bisa bicara tanpa perlu apa-apa
tapi kita tidak menggunakannya

2014
 

Rabu, 13 Agustus 2014

RUMAH HUJAN


aku menemui hujan semalam
dinginnya serupa kulit tanganmu
lalu aku mengikatnya dengan tali rambutku
dan kuletakkan di kotak pos depan rumahmu

hujan ingin pulang ke rumahnya
: kau
                                               

2009

TENTANG JARAK


entah kenapa jadi begini;

aku berjarak dengan sajak
aku berjarak dengan diriku
aku berjarak dengan dirimu

hidup tak lain adalah kipas angin
apa guna jika sudah tak berputar
begitu seseorang berbisik kepadaku

kita menjadi lain
dunia menjadi lain
matahari tidak berubah

jarak, katamu,
cuma soal hati yang diletakkan
 

2013