Tampilkan postingan dengan label cerita cerita pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita cerita pendek. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 November 2014

Oktober


Sesuatu terkubur di dalam tanah. Di dalam rumput. Di dalam hujan bulan Oktober pada usianya yang ke lima belas.  Susah payah Airin menguburkannya. Tapi siapapun tahu, bangkai, atau yang mati atau sesuatu yang buruk memang harus dikubur. Dilesakkan jauh, kalau bisa sampai ke lambung bumi agar baunya tak lagi meruap ke permukaan.  Tapi jendela dan hujan  deras  yang gerakannya miring oleh angin mampu mengangkat seonggok daging busuk mirip zombie itu.
Tangannya yang terlipat di meja tiba-tiba terasa dingin. Ada getaran aneh menampar ingatannya. Ia harus bergerak, harus. Supaya gambar yang tak diinginkannya itu tak perlu ia lihat lagi, dalam bingkai jendela. Dalam hujan yang sama.
“Mau kopi, Mbak?”
Tanya seseorang dengan setengah membungkuk di sampingnya. Entah sejak kapan ia berada di sana. Airin seperti melihat hantu atau boneka barbie yang sangat ditakutinya.
“Pak Parman, bikin kaget saja.”
Mbak Airin sih melamun. Mau kopi panas, Mbak? Udaranya dingin sekali lho.”
“Mmm, teh aja deh, Pak.”
“Lho, kok tumben?”
“Lagi pengen.”
Pak Parman berlalu. Airin memandang lelaki itu sejenak sampai ia hilang di pintu. Beberapa temannya sedang melakukan kegiatan di meja masing-masing. Ada beberapa yang menggerombol di meja yang sama sambil mengobrolkan sesuatu. Di antara mereka semua ada sebuah cangkir dengan asap tipis mengepul. Ia tak ingin minum kopi hari ini.
Bayangan itu lagi. Bagaimana bisa Pak Parman yang sudah enam puluhan dan kurus itu membuat ia mengingat rupa bobeka barbie. Ia mendadak sangat jijik. Mual. Bau busuk entah darimana menusuk hidungnya. Airin menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada yang janggal. Tak ada yang diluar kebiasaan. Teman-temannya yang di sana tidak bertambah atau berkurang, orang-orang yang sama. Tapi penciumannya tak mungkin salah. Ia menangkap aroma lain menyengat hidungnya.
“Rin, kamu kenapa?” Tanya Rudi, meja kerjanya hanya berjarak satu meter dari meja Airin.
“Bisa minta tolong matikan AC-nya, Rud?”
Tanpa banyak bicara Rudi beranjak dan mengarahkan remote kecil ke arah AC. Klik. Perlahan ruangan yang dinginnya menggigit kulit menjadi hangat. Sekalipun di luar, langit benar-benar sedang menumpahkan kemarahannya. Hujan masih turun dengan lebat. Garis air yang turun tampak miring.
“Kamu masuk angin?”
Airin menggeleng. Tangannya sedang sibuk merogoh minyak kayu putih di loker meja. Wajahnya memang tampak pucat. Sesuatu di jendela itu menyedot rona gembira yang beberapa menit lalu masih memenuhi matanya.
“Bisa minta tolong tutup gordennya?”
Rudi merasa aneh, namun ia melakukannya juga. Bingkai jendela yang memperlihatkan pohon kersen yang basah kuyup oleh tamparan air hujan itu kini berubah warna menjadi kelabu. Gorden kelabu memisahkan kantor itu dan dunia luar.
“Rud, apa tadi ada yang datang kemari selain orang kita?”
Rudi berpikir sebentar. Lantas menjawab dengan perlahan. Sekalipun sejak tadi ia berada di sana, ia takut salah memberi informasi.
“Setahuku tidak ada.”
Airin begitu saja meninggalkan tempat ia duduk. Ia berlari ke arah pintu kamar mandi. Dari luar sama-samar terdengar, ia terbatuk-batuk, lantas muntah beberapa kali.

…….
“Kamu sakit?”
“Tidak.”
“Dari tadi bolak-balik kamar mandi terus?”
Hari itu udara dingin sekali. Akhir tahun. Curah hujan turun tak tahu diri, terus menerus tanpa jeda yang panjang. Airin dan ibunya sedang bersantai menonton televisi ketika seseorang mengetuk pintu. Ibu duduk saja di kursi, kakinya sudah tak bisa digerakkan sejak beberapa bulan yang lalu. Airin beranjak keluar dan membukanya.
“Siapa, Rin?”
“Om Ubay.”
Setelah mengantar sampai ruang keluarga, Airin melesat ke kamar. Bahkan ketika Ibu memanggilnya untuk membuatkan minuman, ia tak menyahut.
“Biar saya ambil sendiri, Mbak. Kaya tamu aja.”
Om Ubay meletakkan tas punggungnya kemudian pergi ke dapur. Ia menyeduh kopi panas. Ketika kembali dari dapur, Om Ubay berhenti sebentar. Ia menghela napas, lalu mengetuk pintu kamar Airin dengan lembut.
“Rin, Om bawa oleh-oleh lho, barbie kesukaanmu, kali ini rambutnya pirang dan panjang.”
Tidak ada jawaban. Om Ubay kembali ke ruang keluarga. Ibu masih menonton televisi. Untuk beberapa saat mereka melakukan kegiatan masing-masing. Sesekali ibu membuka-buka majalah yang ada dipangkuannya. Om Ubay mengeluarkan sebuah kado dari dalam tasnya. Ia letakkan bungkusan persegi panjang itu di atas meja.
“Kamu ini, nanti Airin manja kalau kamu terus bawa oleh-oleh buat dia.”
“Ndak terus lho Mbak, kebetulan aja pas ada rejeki. Dulu Mbak juga sering mbawakan aku oleh-oleh tho.”
Ibu tersenyum. Adik sepupunya itu memang satu-satunya kerabat yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Anak laki-laki yang dulu sering ia urus, kini sudah menjadi pemuda dewasa dengan pekerjaan yang baik. Ia menjadi pegawai atasan di kantor pos di kota kecamatan tempat mereka tinggal. Karena masih bujang, ya pantas saja ia sering membawa oleh-oleh setiap kali datang. Katanya daripada uang dihambur-hamburkan untuk hal-hal yang tidak penting, lebih baik untuk balas budi. Jika sudah begitu, Ibu tak bisa menolak. Bukan berarti ia minta dibayar atas kebaikannya ketika muda yang sering membawakan mainan kepada adik sepupunya itu.
“Kamu kok masih sendirian aja to, Bay. Mbak bosen lho lihat kamu ke sini bawanya tas punggung terus. Bawa gandengan dong sekali-kali,” goda Ibu. Ubay cuma cengar-cengir.
“Belum nemu kok, Mbak.”
“Halah, belum nemu atau kamu pilih-pilih?”
“Mbak ini, memangnya seganteng apa aku kok bisa pilih-pilih.”
Saat itu Airin muncul dari kamar, wajahnya cemberut. Tanpa mengucapkan permisi ia begitu saja mengambil buku-buku dongeng yang tadi di bacanya, buku-buku itu disambarmnya dari samping Ubay.
“Rin, menurutmu Om Ubay ganteng tidak?”
Airin tidak menggubris ucapan ibu. Tanpa menoleh ia berjalan cepat kembali menuju kamar. Pintu ia banting dengan keras. Ibu merasa tabiat Airin mudah sekali berubah. Beberapa menit yang lalu ia masih anak gadisnya yang lembut dan periang, yang terbuka. Kini sebaliknya.
Di kamar, Airin duduk berdiam di depan cermin. Ia memandangi dirinya yang kurus dengan rambut lurus berponi, dengan kulit yang kecoklatan. Diperhatikan matanya baik-baik, hidungnya, bibirnya, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, ia perhatikan daun telinganya, lehernya, sepasang bahunya. Tiba-tiba ia merasa mual lagi...
Namun ia tak beranjak ke mana-mana. Masih tabah ia di depan cermin saling memandang dengan dirinya yang mematung di sana. Dengan cahaya mata yang perlahan redup. Ada warna merah menyelimuti bola matanya. Alisnya mulai mengkerut. Tiba-tiba di bayangannya sebuah lengan yang kuat menyentuh pundaknya. Dadanya yang belum sepenuhnya menonjol naik turun dengan cepat.
“Rin, Om mau ngomong.”
Pintu kamar diketuk. Suara Om Ubay. Airin membiarkan suara itu memantul di kedua telinganya yang memerah. Rasa tak enak mulai bergulung di dadanya.
“Rin, sebentar aja, Om mau ngomong.”
Airin tak menyahut. Tangannya mengepal dengan kuat. Di cermin ia melihat sepasang tangan sedang menyusuri pundak dan lehernya. Tangan yang sama. Tangan yang menawarkan perlindungan. Kulitnya kini meremang. Detik-detik berjalan dengan cepat. Ia seperti sedang mengikuti sebuah pertandingan lari, ia ingin peristiwa yang dilihatnya di cermin segera usai. Namun ia tahu, yang akan terjadi adalah sebaliknya. Ia akan melihat gerak lambat yang menjijikkan. Sepasang tangan yang mulai merayap di telinga mungilnya, kemudian lama berhenti di bibir. Sesudahnya tangan itu merayap pelan-pelan mirip seekor binatang melata, ia berhenti di dadanya yang ngilu. Disana tangan itu bergerak-gerak, namun tak segera beranjak. Segalanya runtut. Airin ingin muntah. Terlebih ketika sesuatu merogoh tubuhnya bagian bawah. Suara Om Ubay semakin mirip lebah yang mendenging. Makin lama makin riuh dan mengganggu. Suara yang mendekat, memekakkan telinga.
Pyar.
Pecahan kaca yang mengagetkan. Lebah-lebah di telinga Airin lenyap. Suara laki-laki di luar masih sama. Airin masih duduk dengan cara yang sama. Namun kini tangan kanannya yang masih mengepal terluka. Ada sayatan luka-luka tipis, dan darah merembes dari sana.
“Rin, buka pintunya atau Om akan mendobraknya.”
Suara Om Ubay yang panik disusul suara ibu dari jauh. Ya. Dari jauh. Ibu tak bisa dengan cepat mendekat. Ia tak seperti dulu yang kemanapun kapanpun dengan kaki sendiri. Kini ia butuh kursi roda atau bantuan orang lain. Ya, selalu begitu, bahkan ketika Airin betul-betul membutuhkan pertolongannya.
Terngiang di telinga Airin suara tangisnya sendiri, tangis yang lirih di tengah malam pada pertengahan bulan Oktober, di mana curah hujan lebih mirip air terjun yang berisik daripada gerimis yang lembut. Saat itu ia demam. Ibu tak mungin bolak-balik kamar-kamar mandi-dapur untuk menemaninya, mengingat kondisi ibu sendiri seperti demikian. Maka om kesayangannya itu yang merelakan waktu untuk merawatnya. Mengantar ke dokter, menyuapi makan, mengambilkan obat. Dan memeluknya ketika tidur. Padahal Airin menolak, padahal Airin sudah mengusirnya berkali-kali. Padahal Airin sudah mengeluarkan kata-kata kasar supaya om kesayangannya itu tak datang lagi, tak mendesaknya lagi.
“Airin, tolong keluar. Ada apa kamu? Airin tolong buka pintunya….”
Suara ibu setengah menangis. Airin tak mungkin menceritakan apapun pada ibu. Termasuk ketika pangkal kakinya terasa perih. Beberapa hari, beberapa tahun, sampai ia merasa tak sanggup mengobatinya sama sekali….

……….
Airin masih duduk di kursinya sembari membuak-buka majalah dan membacanya sekilas. Di jendela air hujan mulai renggang, tak ada lagi petir yang cerewet, dan langit sudah berkurang pekatnya meski warna biru belum nampak juga. Ia mengecek jam di pergelangan kirinya. Setengah jam lebih Pak Parman tak juga muncul. Sekalipun tadi ia tak memesan dan lebih sebagai tawaran atas kebaikan Pak Parman, namun saat ini ia mengharapkannya juga.
Tak lama kemudian, seseorang yang dinantikannya muncul di pintu. Kedua tangannya menyangga penampan berisi satu teko kecil dan dua cangkir kecil yang mengepulkan asap tipis. Ia berjalan ke arah Airin. Airin menghela napas dengan halus.
“Lama sekali, Pak?” Ujar Airin, “Kirain Pak Parman kesasar.”
Pak Parman tersenyum. Ketika sudah berada beberapa meter dari meja Airin, Pak Parman membelokkan langkahnya ke arah meja lain, dan meletakkan dua cangkir serta teko di sana.
Mata Airin masih mengikuti lelaki itu. Mulanya ia merasa aneh, namun barangkali harus sesuai antrean. Lagipula, mungkin saja ada kesulitan di dapur, mungkin gula sedang habis, atau teh habis, sehingga mendahulukan siapa yang memesan terlebih dahulu. Ketika Pak Parman hendak kembali, Airin memanggilnya.
“Pak Parman, tehku yang lebih kental ya,” ucap Airin, lebih sebagai mengingatkan lelaki itu bahwa ia juga memesan minuman hangat.
“Lho, Bu Airin jadi pesen?”
“Hmm, Pak Parman ini, masak udah lupa...”
Lelaki itu nampak kebingungan, ia terlihat memikirkan sesuatu.
“Hmm, trus pesennya satu atau dua, Bu?”
Airin tercekat. Mendadak ternggorokannya sangat kering.
“Pak Parman, yang satu lagi mau diminum siapa?”
Ia tahu banyak hal sedang bergerak di luar kehendaknya. Semacam firasat. Konsentrasinya mendadak ambyar. Rasa mual yang tadi mengganggu kini terasa lagi, mendesak naik di perut bagian atas, merayap pelan-pelan ke tenggorokan, mengirimkan sinyal pahit di pangkal mulut. Ia merasa pusing lagi.
“Lha ya Mas Ubay to, Katanya jauh-jauh dari luar kota langsung ke sini lho, Mbak. Katanya pengen ketemu Mbak Airin.”
“Suruh pulang aja, Pak.”
“Lho, kok suruh pulang, dia udah hujan-hujanan juga lho, Mbak...”
Hujan lagi. Apa harus hujan selalu membawa seonggok daging busuk mirip zombie itu kembali? Hujan yang sama, hujan yang selalu sama. Pertengahan Oktober yang menjijikkan.
Airin beranjak. Rasa mual di perutnya sudah tak tertahankan. Lebih dari itu, rasa nyeri di dadanya menyebar lebih cepat dari kedatangan sepupu ibunya itu. Ia membuka kamar mandi. Suara Pak Parman kalah oleh air wastafel yang mengalir deras sekali...


Boja, 25 Juli 2014 00.42




Senin, 07 Juli 2014

Taman Rahasia


Diandra melepas alas kaki kemudian membiarkan beban tubuhnya berada di atas jungkat-jungkit. Bunyi keresak daun kering terdengar ketika salah satu ujung jungkat-jungkit mengenai tanah. Ia terus menggerakkan mainan yang cat dan kayunya sudah lapuk, seolah sedang bermain-main dengan bayangannya sendiri.
Di taman itu cuma ada ia seorang. Diantara pohon pinus yang berjajar, dan pohon ketapang yang daun-daun kuningnya rontok menutupi rumputan yang tumbuh liar di sana. Ada beberapa mainan yang membuat Diandra ingin terus datang dan menyentuh mainan-mainan itu, jungkat-jungkit yang sudah tak bisa lagi memberi jarak dengan kakinya, perosotan yang terasa sangat kecil, dan ayunan yang besi pegangannya sudah berkarat serta menimbulkan bunyi derit yang sedih.
Sudah berapa lama taman ini tak disentuh tangan orang? Batinnya. Ia seperti sedang mengunjungi halaman rumah yang sudah ratusan tahun ditinggal penghuninya. Padahal taman itu terletak di tengah kota.
“Jangan-jangan taman ini tak bisa dilihat siapapun, cuma kita.” Candamu ketika suatu hari pernah mengajak Diandra ke sana dan duduk di tempat yang sama dimana perempuan berusia dua puluhan itu kini sedang berada.
“Jangan-jangan iya?” Diandra menyahut.
Kalian mirip sepasang kelinci yang pandai sekali membayangkan akan ada peri yang mengajak kalian terbang ke bulan. Lalu kalian membangun dunia yang penuh wortel di sana. Atau peristiwa ajaib lain.
Di sisi taman itu tampak sebuah rumah besar mirip istana. Dindingnya dibangun dari batu bata merah yang tersusun rapi. Atapnya rata tanpa genting seperti bangunan jaman kolonial.
“Menurutmu, siapa kira-kira penghuninya?” Tanyamu, setelah beberapa saat berdecak mengagumi bangunan dengan corak asing yang tumbuh di tengah kota besar yang di sekitarnya rumah-rumah sudah mirip masyarakat urban.
“Mungkin, keluarga dari negeri Jerman.”
“Masak? Kita bisa tanya-tanya soal Goethe dong?”
Kalian girang membicarakan rumah yang pintunya senantiasa tertutup itu. Halaman rumah dan jalanan dibatasi oleh gerbang besi yang tingginya hampir sama dengan lampu taman usang yang tak menyala di atas kalian. Di kepalamu puisi Goethe begitu saja melintas kemudian membuatmu menggumam pelan.

Tiada makhluk runtuh jadi tiada
Sang Abadi tak henti berkarya dalam segala,
Pada sang Ada lestarikan diri tetap bahagia*

“Menurutmu apa benar rumah itu milik orang Jerman?”
“Mungkin saja, mana ada rumah orang Indonesia berbentuk seperti itu.”
“Pasti ada, orang kita kan mudah meniru.”
“Ssst, kalau ucapanmu didengar orang lain bisa bahaya.”
Lalu kalian melirik ke kanan dan ke kiri, kemudian tertawa. Seolah ada yang begitu lucu yang pantas ditertawakan. Sebagaimana sajak Goethe, dengan segala harapannya yang terang.
“Tak akan berbahaya, taman ini cuma kita yang tahu." Ucapmu setengah berbisik. Lalu Diandra memintamu membacakan beberapa bait puisi lagi. Kamu kali ini mengambil buku dan membacakan beberapa baris puisi sembari duduk di atas jungkat-jungkit dan mempermainkan mainan itu. Diandra di jungkat-jungkit di sisi seberang mendengarkanmu dengan khidmad. Aih, macam murid yang patuh pada guru saja ia. Sesekali ia melamun, sesekali ia tersenyum-senyum, sesekali ia memandang matamu tanpa berkedip. Menurutmu, bagaimana cara mengembalikan mata Diandra supaya bercahaya seperti itu lagi?
Diandra kini sedang melakukan hal yang sama. Jungkat-jungkit itu menahan beban tubuhnya ke atas dan ke bawah. Namun tak ada seorang pun di sana. Apa kalian tak pernah janjian untuk bertemu di taman itu lagi? Aku tak pernah berani menanyakan itu kepada Diandra, matanya selalu memeperlihatkan permusuhan kepada siapapun. Termasuk kepadaku.
Suatu hari aku pernah menemukannya sedang berada di sebuah kamar. Di hadapannya sebuah potret tergeletak. Ia memandangnya seolah ada lubang sangat dalam yang ingin ia masuki. Potret itu berwarna hijau agak kekuningan. Ada gambar lampu taman tua dengan lanskap daun-daun ketapang yang rindang. Apakah itu lampu taman yang sering ia bicarakan?
Diandra pernah bertanya padaku apakah aku suka jalanan dengan cahaya terang atau redup. Aku menjawab lebih senang warna terang, sebab, dengan warna terang kesedihan dan kegembiraan tak perlu disembunyikan. Diandra tertawa kecil, jarang sekali aku melihatnya bisa tertawa tulus seperti itu. Sudah itu ia bilang ia tak suka warna terang, sebab terlalu mudah menebak suasana hati orang katanya kurang menyenangkan. Lalu ia memintaku untuk memasang lampu di halaman rumah dengan warna tak terang. Dengan bentuk sama persis dengan lampu yang ada di potret yang sering membuatku merasa sangat kehilangan dirinya.
Beberapa kali aku berusaha menyentuh potret itu dan meletakkannya di sebuah bingkai kemudian memasangnya di dinding. Tentu dengan harapan supaya ia tak perlu lagi memandangi potret itu seolah dunia cuma ada di sana. Tetapi Diandra menolak dan mendekap potret itu seolah aku adalah penjahat yang akan merampas kebahagiaannya. Ketika kuhibur dia dengan mengatakan tamanmu tak akan ke mana-mana, tamanmu akan terlihat lebih indah di dalam bingkai itu. Ia menggeleng dan mengusirku.
Dia sering sekali tidak menyahut ketika kuajak berbicara. Namun, ia sering berbicara bahkan ketika tak seorang pun mengajaknya berbicara. Apakah saat itu kamu datang tanpa sepengetahuan siapapun? Aku tidak tahu. Tetapi aku selalu berusaha mendengarkan dan mencatat ucapan-ucapan lirih yang keluar dari bibir pucatnya.

Beribu-ribu pikiran naik-turun senantiasa di dalam diri;
 jiwaku tak pernah istirah, bagai pesta kembang api nan abadi.

Bukankah itu salah satu sajak Goethe yang pernah kamu hadiahkan kepada telinganya? Dia menghafalnya bahkan ketika ia sudah melupakan segalanya. Aku tak pernah menanyakan apakah ia melupakanmu atau tidak. Mungkin sebagaimana larik itu, kau memang tak akan pernah istirah, sedangkan Diandra ingin pulang dan merasakan kehidupan yang tenang, nyaman. Ya, aku berusaha memberikannya. Namun barangkali rumah yang diinginkan cuma kamu, seorang saja.
Aku pernah mengajak Diandra tinggal di sebuah tempat yang mungkin bisa membuatnya lebih tenang. Tempat dengan halaman lapang dengan kursi-kursi panjang bertebaran, serta pohon-pohon rindang membuat tempat lapang itu teduh. Aku tahu tak ada tempat yang bisa diciptakan sama persis, apalagi sebuah peristiwa. Maka aku cuma seperti sedang memasang sebuah boneka pada lanskap yang tak tepat sehingga boneka itu tampak tak bernyawa.
Diandra terlihat lebih segar ketika seseorang membawanya kembali ke tempat tinggalnya semula dengan beberapa hal dari taman yang sempat ia bawa; potret itu, dan kenangan-kenangannya. Bagaimana bisa seseorang masuk ke dalam sebuah potret dan hidup di sana?
Kutanyakan hal itu kepada siapapun. Aku betul-betul berusaha mencari tahu bagaimana cara mengeluarkan seseorang dari sana, atau ikut masuk ke sana dan menemaninya tinggal supaya tak sendirian. Namun, ketika, entah melalui mimpi atau apa, kakiku bisa menapak tanah yang juga ia pijak, taman yang juga ia kunjungi, lampu taman yang juga menerangi tubuhnya, aku cuma sebuah suara tanpa wujud yang tak akan didengarkan oleh telinga manapun, juga telinga Diandra.
Sudah itu aku berjanji kepadanya juga diriku sendiri, aku pasti akan menemukanmu dan membuat mata Diandra serta jiwanya hidup lagi. Tetapi mungkin kamu cuma masa lalu yang menjelma masa depan, yang tak bisa digenggam siapapun sebelum waktunya benar-benar tiba, atau sama sekali tak akan tiba.
Kini, setiap hari aku memandangi potret itu sendirian. Tidak kalah gelisah dengan seseorang yang bermain jungkat-jungkit di sana. Diandra, kapan kehidupan bisa menemuimu lagi dan sebaliknya?


Boja, Juli 2014
*sajak Johann Wolfgang von Goethe




Selasa, 01 Juli 2014

Hari-Hari yang Kekal Di Kepalanya

 Sena membiarkan tangan orang-orang membuatnya sulit bergerak. Kemudian ia rasakan sebatang jarum menyusup di kulit lengannya bagian kiri. Ia ingin menjerit namun suaranya luruh bersama dengan zat yang menyerap seluruh kekuatan tubuhnya. Ia cuma bisa memandang kedukaannya sendiri di mata orang-orang di sekelilingnya.
Ia duduk di sebuah ranjang yang sewarna dengan seluruh yang ada di ruangan itu, serba putih. Ia menghadap ke jendela terbuka yang terhalang oleh besi-besi panjang seperti berada di dalam penjara. Ia membiarkan pandangannya menyentuh daun-daun kersen yang tampak rindang di luar jendela. Beberapa burung kecil yang kebetulan hinggap dan menggerak-gerakkan ranting tak menggoyahkan bola matanya. Seperti ada air keras yang membekukan mata itu.
Di ujung dahan-dahan itu ia mendengar seseorang berbicara tentang langit, tentang laut, tentang angin, dan tentang apapun yang membuatnya terperangkapn pada semua kata-kata yang entah darimana lahirnya itu. Ia terperangkap pada semua diksi yang pernah ia dengar. Ia merasa tak bisa lari kemanapun, ia merasa membutuhkan pertolongan. Ia sungguh ingin berlari ke pamakaman sekarang dan meminta pertolongan kepada gadisnya.
Tetapi ia tidak bisa berlari ke pemakaman sekarang. Kakinya dirantai oleh zat yang tadi disuntikkan ke dalam tubuhnya, begitu juga dengan tangannya, matanya, mulutnya, seluruhnya.
Ia membutuhkan pertolongan sekarang. Ia tahu gadisnya tak akan marah jika saat ini ia datang dan meminta apa yang pernah gadis itu janjikan. Ia justru takut apabila ia tidak datang, gadisnya akan mengira bahwa ia tidak memedulikannya. Bahwa ia tidak membutuhkan apa yang telah dijanjikan gadisnya. Setitik dua titik air merembes menembus kelopak matanya.
Tak lama kemudian ia mendengar langkah kaki mendekati pintu yang tertutup. Ia mendengarnya seperti gema yang merambat sangat lambat di udara. Langkah kaki itu semakin terdengar dan suara orang yang bercakap semakin jelas di telinganya. Tetapi saat ini ia adalah binatang yang sedang terluka, dan cuma bisa meminta pertolongan kepada gadisnya.
Ia mendengar derit lubang kunci diputar. Lalu pintu terbuka dan dua orang berdiri di depan pintu. Ia tak berusaha menoleh atau mengenali kedua orang itu. Dia membiarkan kedua orang itu melihatnya seperti tontonan.
“Saya akan membawanya.” Kata salah seorang di antara mereka.
“Tetapi kondisinya sedang tidak baik, berbahaya.” Timpal seorang lainnya.
“Tetapi ia harus saya bawa.”
“Tetapi ia akan membahayakan siapapun si sekitarnya.”
Petcakapan itu masuk ke dalam telinganya. Ia tak dapat menerka suara siapa itu. Ia hanya samar-samar merasa pernah mendengar suara itu entah di mana. Ia tersingung ketika ia dikatakan membahayakan siapapun. Kenyataannya kedua orang itu kini tak sedang berbahaya berada di dekatnya.
“Tetapi seseorang sedang menunggunya sekarang.”
Suara seseorang di pintu itu menggema, memantul, membunyikan masa lalu dengan ngilu di kamar itu. Sena merasakan dadanya sesak, beban itu cuma bisa ia tanggung sendiri. Bahkan anggota badannya sendiri tak mampu menolongnya.
“Biarkan dia tenang dulu.” Ucap seseorang yang lain.
Sena merasakan telapak tangannya berkeringat. Basah yang lantas terasa dingin. Ia ingin sekali berteriak, menanyakan kepada orang-orang itu bagian mana dari dirinya yang sedang tampak tidak tenang. Bahkan seekor semut yang menggigit kulitnya tak bisa ia sentuh.
“Tetapi kita tidak bisa menunggu lagi, ada seseorang yang benar-benar ingin bertemu dengannya sekarang.” Suara seseorang di pintu tiba-tiba meninggi. Nyaris menjerit ia, lantas beberapa orang datang dan mengajaknya pergi. Tak lama kemudian jarum suntuk yang serupa memasukkan cairan kepadanya. Ia jadi seperti korban kedua setelah Sena.
Sudah itu Sena tahu tak ada siapa-siapa lagi di ruangan itu. Ia kembali diperangap ruangan putih tanpa suara. Tatapan mata kosongnya masih merayap di daun-daun kersen, dahan-dahan, dan buahnya yang sesekali berjatuhan. Angin yang lewat membuat kelopak matanya perih dan berat. Ia merasa lebih mati dari orang yang sudah mati.
Gadisku, apa begini rasanya mati? Ucapnya dalam hati. Ia tak mengharapkan jawaban dari siapapun. Ia hanya ingin pergi ke pemakaman dan memeluk gadisnya yang sebentar lagi akan habis dimakan rayap, hidup sendirian di dalam kesepian.
Tidak, kita tidak akan kesepian di dalam tanah. Ada orkes kecoak dan sejenisnya. Kata gadisnya suatu hari ketika mereka sedang membayangkan kematian. Dan ia merasakan ketakutan menyerangnya tiba-tiba, kesepian yang tiba-tiba begitu tebal mengepung tubuhnya. Disini sesekali aku mendengar nyamuk mendenging, semut-semut serta kecoa entah membicarakan apa, apakah itu yang dimaksud dengan konser para serangga? Tetapi aku merasa lebih kesepian dari yang pernah kita bayangkan. Dadanya bergerak lebih cepat.
Buku-buku dan seluruh tulisan yang pernah ia baca bersama gadisnya menciptakan imajinasi liar yang tumbuh di kulit kepalanya. Ia berharap imajinasi itu mampu menembus dinding, mampu menembus jarak, mampu menembus batas-batas kesaradannya, mampu membawanya ke pemakaman sekarang.
Erangan kecil terdengar dari bibirnya yang kaku, yang pucat. Otot-ototnya menegang. Ia malah membayangkan dirinya adalah ikan buntal, yang sebentar lagi meletus.
“Jangan, Pak, tolong jangan.” Suara seoang perempuan, setengah menangis. Ia terkejut, tak menyadari sejak kapan ada beberapa orang membuka pintu dan mengusik kesendiriannya lagi. Ia tak mampu menoleh. Matanya masih kaku, rantai besi seperti mengikatnya supaya tak dapat bergerak.
Perempuan yang menangis dan setengah menjerit itu tiba-tiba menghambur kepada tubuh Sena, sampai ia hampir terjatuh jika saja beberapa orang yang menyertai perempuan itu tidak menopangnya.
“Hati-hati, kalau salah satu terluka kan kasihan.” Ucap seseorang, yang kini kedua tangannya mendekap Sena, cengkeraman eratnya membuat kulit Sena perih.
Sena melihat jendela ditutup. Ia tak sempat mengucapkan apa-apa pada daun-daun kersen, pada dahan-dahannya. Pada buah-buahnya yang masak. Ia tak sempat menyampaiakan keinginannya.

***

“Sudah.” Ucap seseorang.
Sena duduk di tepian ranjang sambil masih merasakan perih dan pegal di pergelangan tangan kirinya. Ia melihat beberapa orang yang tadi menyerang kini berangsur pergi. Tinggal ia dan kamar serba putih yang saling diam.
Sena merasakan kunang-kunang penuh di kepalanya. Menyerap energi yang beberapa menit lalu masih bisa membuatnya bergerak sesuka hati, berlari, berjalan, melakukan apapun. Namun tak semua orang menghendaki ia melakukan apapun. Maka saat ini ia duduk di ruang itu, dengan sisa-sisa ingatan yang pelan-pelan membuat matanya mulai terbuka dan menemukan titik pandang.
Jendela dengan jeruji penjara itu senantiasa terbuka, memberikan kesempatan kepadanya untuk menghirup udara segar. Sebab pintu tak mungkin terlepas dari cengkeraman kunci. Ia tahu bahwa ia sedang diamankan. Namun ia tak mau memahami mengapa ia harus diamankan.
Semua orang tahu bahwa dirinya bukan pembunuh, bukan pencuri, bukan perusak. Tetapi semua orang memandangnya dengan tatapan yang menakutkan. Sebagian karena iba, sebagian, karena jijik, sebagian lagi menyalahkan entah dengan alasan apa. Ia cuma tahu bahwa ia sering disergap sebagaimana seorang buronan.
Ia sedang berada di tepian pekuburan ketika tiba-tiba seseorang melihatnya dan terkejut sehingga berteriak agak kencang sembari menyebut namanya. Beberapa orang yang kebetulan mendengar, mengalihkan sebentar kesedihan mereka untuk menoleh kepadanya. Lantas beberapa orang yang sedang dirundung duka itu mendekatinya, mencekal tangannya, menariknya untuk tak mendekat ke tengah tanah pekuburuan yang di sana nampak lubang dalam berbentuk panjang di mana di dalamnya seseorang yang ia cintai hendak menghuni.
“Dia ingin bertemu denganku, tolong, jangan sentuh ia dengan tanah sedikitpun, ia hendak mengatakan sesuatu kepadaku!”
Teriakan-teriakan Sena membuat orang-orang yang mencengkeram tangannya, semakin kuat menariknya menjauhi tempat itu. Mereka semakin berjuang keras mejauhkan Sena dari kesedihan yang sedang masyuk di tempat itu.
“Tolong, jangan kuburkan dia, ada yang ingin kukatakan, ada yang ingin kusampaikan. Tolong, hanya dia yang bisa menolongku!!”
Dan teriakannya benar-benar seperti gonggongan anjing, tak luput dari telinga namun pada akhirnya diabaikan.
Sena melihat orang-orang mengerumuni lubang dalam dengan bentuk memanjang. Ia tahu di dalam lubang itu seseorang sedang menunggunya. Sedang menantikannya untuk mendengarkan sesuatu yang akan keluar dari bibirnya. Dari kejauhan Sena hanya bisa melihat kerumunan. Hanya melihat dan mendengar tangisan. Hanya mampu menangis dan akhirnya tubuhnya benar-benar menjauh dibawa sebuah mobil entah akan ke mana. Ia tahu seseorang di dalam lubang panjang itu mendengarkan teriakannya, turut menangis sebab ia tak dapat menemuinya.
“Di makan. Jangan dibuang lagi.” Ucap seseorang.
Sena sering menganggap seseorang yang ada di sampingnya itu adalah hantu yang tiba-tiba ada tiba-tiba pergi tiba-tiba bicara tiba-tiba menghilang berhari-hari. Kini tiba-tiba ia ada di samping ranjangnya membawa penampan berisi nasi dan lauk pauk, di sebelahnya segelas penuh susu putih mengeluarkan uap panas.
Sena melirik sebentar. Ia masih tak sanggup menggerakkan jari-jarinya, menggerakkan apapun di tubuhnya. Ia melirik perempuan yang membawa penampan itu. Ia ingin menajamkan lirikan matanya, ingin mengatakan sesuatu, namun ototnya kembali lemas. Ia kembali seperti orang lumpuh, bahkan hanya untuk menggerakkan bola mata dan kelopaknya.
Setelah meletakkan penampan di meja, perempuan itu memandang Sena. Ia mengerti bahwa tangan Sena dan seluruh tubuhnya sedang tak bisa digerakkan. Lantas bagaimana ia memintanya untuk makan? Perempuan itu duduk sedikit berjarak dari Sena. Ia turut memperhatikan apa yang sedang menjadi titik pandang mata Sena. Kemudian melongok ke jendela sebentar dan berbicara.
“Kamu memperhatikan burung-burung itu ya?”
Sena berkedip. Ia tak berniat menjawab pertanyaan perempuan itu dengan apapun.
“Mestinya kamu tak perlu punya keinginan menjadi seperti burung-burung itu.” Perempuan yang sedang duduk di sampingnya seperti seorang remaja yang sedang menghibur temannya. Ringan. Tanpa beban.
Sena merasa tak senang dengan ucapan seseorang di sampingnya. Ia seperti didakwa bahwa ia tak perlu macam-macam supaya ia tak di suntik dan di suntik lagi, supaya ia tidak dirantai dan dirantai lagi, supaya ia tidak dikurung dan dikurung lagi. Tetapi, memangnya selama ini ia macam-macam bagaimana? Ia belum sempat melakukan apa-apa. semua tangan seolah berkehendak untuk mencegahnya melakukan apa yang diinginkan. Lantas bagian mana yang berbahaya dariku? Jika mulutnya bisa dibuka ia pasti sudah melemparkan kalimat itu dengan sinis ke mukanya.
“Aku juga pernah ingin jadi burung-burung.” Kata perempuan itu. “Tetapi, setelah tahu burung itu tidak punya rumah, aku jadi tak ingin seperti mereka. Memangnya terbang terus menerus di langit atau hinggap di dahan pohon tidak berbahaya.” Perempuan itu bicara dengan santai. Barangkali ia pun pandai berimajinasi seperti Sena, ia membayangkan Sena mendengarkan ucapannya dengan senang, padahal ia tahu, Sena cuma ingin mendengarkan dirinya sendiri.
“Bagaimana dengan orkes serangga di kamar ini? Kamu masih sering mendengarnya?”
Sena menarik napasnya dengan berat. Lalu menghembuskan pelan-pelan sekali seperti sedang berlatih olah vokal. Apa yang harus dijawabnya? Ia bahkan tak ingat banyak. Orkes serangga. Daun kersen. Jendela penjara. Burung-burung kecil. Para perawat. Sebanyak apa dalam sehari ia dapat mengingat itu semua? Namun orkes serangga tiba-tiba membuat dadanya nyeri.
Ia sering begitu saja mengingat orkes serangga setiap kali merasa kesepian sedang mengintai dan hendak mencekik lehernya, menyayat tubuhnya. Jika sudah begitu, ia akan segera melebarkan kelopak mata, memeperhatikan setiap sudut ruangan dengan jeli, menerka ada serangga apa di sudut sana, ada serangga apa di sudut sini, ada suara apa di sana, ada suara apa di sini... Telinganya tak jarang kecewa karena pada saat tertentu serangga-serangga yang ia harapakan dapat menyanyi untuknya justru membuat kesepiannya semakin menakutkan. Tak jarang ia tak mendengar apapun selain kecemasannya sendiri. Namun, pada saat tertentu, ia seperti berada di sebuah ruangan luas, dengan panggung megah di depannya, kelompok musik orkes sedang bersiap memainkan lagu-lagu yang disukainya. Ia melongo duduk di tepi tempat tidur. Menikmati suara-suara yang ia yakini tak sedang ia dengarkan sendiri.
“Dari mana kamu tahu soal orkes serangga?” Dalam hati ia ingin sekali menanyakan hal itu kepada perempuan yang sedang mengerak-gerakkan kakinya. Melihat-lihat ruangan itu seolah baru pertama kali mengunjungi.
“Hmm, aku ingin mendengarnya sesekali.” Ujar perempuan itu. Setelahnya ia berdiri dan mengambil piring yang tadi ia letakkan di atas meja di samping ranjang. “Jika tidak dimakan, tak ada serangga yang mau datang.” Perempuan itu menyendok nasi dan lauk kemudian mendekatkan ke bibir Sena.
Sena tak melirik. Ia masih tenggelam dalam bayangan serangga, orkes serangga, belalang, jengkerik, kupu-kupu, lebah, nyamuk, serangga-serangga yang sering ia lihat mampir di kamarnya kini sedang berebut melintas ke dalam kepalanya. Ia sedang berusaha mengingat bunyi serangga itu satu persatu. Ia sedang membayangkan bagaimana suara serangga yang ia dengar itu jika didengarkan dari dalam tanah....
Begitu cepat ingatannya melompat ke sebuah tempat di mana ia pernah diusir seperti seekor anjing yang menakutkan. Ia seperti sedang menyambung percakapan jarak jauh dengan seseorang. Ia sedang menemui seseorang.
Ia melihat seseorang sedang menunggunya di sebuah tempat. Seseorang itu tersenyum lebih manis dari yang pernah ia lihat sebelumnya (setiap kali bertemu dan setiap kali membayangkan, ia selalu mempunyai argumen seperti itu). Ia sedang berjalan mendekati seseorang yang entah kenapa tak berbicara apa-apa, namun ia begitu nyaman melihat cahaya matanya yang menyala-nyala. Bagaimana kerinduan bisa disampaikan oleh seseorang yang seluruh jiwa raganya dipenjarakan?
Ia merasakan dadanya sesak. Pasti seseorang sedang berusaha menyerap seluruh cahaya sehingga ia tak dapat melihat apa-apa. Samar-samar suara seorang perempuan menyusup ke telinganya. Seketika ia tak mampu mengingat apa-apa bahkan dirinya sendiri....

***

“Pak, tolong kunci pintunya.”
“Kenapa?”
“Pokoknya kunci pintunya.”
Beberapa orang berada di luar kamar. Mereka berduyun-duyun mengintip ke dalam kamar melalui celah kunci. Bisik-bisik suara mereka mendengung hebat di telinga Sena, nyaris membuat kepalanya meledak.
“Hush, sudah, ini bukan tontonan, sudah, ayo minggir, sudah.” Suara seorang petugas terdengar jelas. Sena masih menutup telinga, tak sanggup menampung seluruh yang menyerang telinganya.
Beberapa menit berlangsung menakutkan. Ia seperti berada di sebuah kotak yang tak ia kenal. Sebuah kotak yang menyudutkannya. Ia tak mengenali jendela, ranjang, almari, dan tulisan-tulisan kecilnya di dinding. Ia seperti baru saja menggelinding dari tempat sangat tinggi. Kepalanya pening.
Entah berapa lama ia terperangkap pada situasi menyeramkan itu. Perlahan dunia membaik. Ia melihat seekor burung kecil menengoknya di jendela. perlahan ia merasakan hatinya tenang. Tetapi, kenapa lengannya selalu terasa pegal setiap kali ia berangsur mendapatkan ketenangan?
Ia melongok ke jendela. Memperhatikan gerak burung kecil yang berpindah-pindah ringan dari satu dahan ke dahan lainnya. Hari ini tubuhnya membaik. Ia bisa menggerakkan semua organ tubuhnya. Ia bisa menyisir rambutnya. Ia bisa memandang wajahnya di cermin. Ia bisa meggerakkan kakinya. Ia bisa berjalan ke mana-mana...
Ya, berjalan ke mana-mana. Pagi tadi setelah mandi dan menyisir rambut ia membuka pintu kamar dan berjalan-jalan keluar. Ia menyapa seorang satpam yang kebetulan bertugas tak jauh dari kamarnya. Ia menganggukkan kepala. Pak satpam melakukan hal serupa. Lalu ia melangkah, ke arah yang setiap hari cuma bisa ia lihat dari dalam penjara.
Sebuah taman, tanah lapang dengan rumput hijau dan beberapa pohon kersen serta pohon ketapang tumbuh rindang di sana. Daun-daunan yang gugur. Bunga-bunga bugenvil ungu yang sedang mekar. Dan bangku-bangku panjang tabah menerima siapapun yang datang ke sana.
“Hai,” sapa seseorang, ketika ia menyandarkan tubuhnya di sebuah bangku.
Sena tersenyum. Kepalanya mengangguk. Ia memperhatikan seseorang yang menyapanya itu dengan jeli. Ia ingin menjawab sapaannya dengan ucapan serupa, namun ia cuma bisa tersenyum, dan berharap betul-betul bahwa senyumnya dapat mewakili apa yang ingin ia sampaikan.
“Selamat pagi, kamu sudah makan?”
Sena masih memandang orang itu. Tanpa berkedip. Ia memperhatikan apa yang ada di tangan seseorang yang ada disampingnya. Kotak bekal entah apa isinya.
“Jika kamu mau, aku mau membaginya denganmu.”
Seseorang di depannya itu ramah sekali. Ia mengangkat kotak bekal di pangkuannya. Matanya meyakinkan Sena bahwa ucapannya sungguh-sungguh. Bahwa Sena boleh mengambil isinya jika ia mau.
Sena mengalihkan pandangan dari orang itu ke arah sendal jepitnya. Ia mirip bocah kecil yang malu-malu berdekatan dengan seseorang yang disukainya.
“Hmm, kamu sih, selalu sembunyi di kamar. Harusnya kamu sering-sering duduk di tempat ini. Setiap hari aku datang ke sini, dan aku tak pernah lupa membawa makanan enak. Aku selalu melihatmu melalui jendela. Dari jendela itu, kamu tampak selalu sedih dan melamun.”
Sena mendengarkan cerita panjang seseorang di sampingnya. Ia seperti sangat mengenalnya. Namun ia sulit menemukan di sebelah mana dalam hidupnya ia pernah bersinggungan dengan seorang itu.
“Kamu tidak sakit kan hari ini?”
Sena masih tersenyum. Kepalanya mengangguk kecil.
“Aku benar-benar senang pagi ini bisa melihatmu di sini. Kamu sungguh tampak cerah dari sebelum-sebelumnya. Coba setiap hari begini. Pasti burung-burung kecil itu tak perlu mengintipmu melalui jendela. Pasti kelopak hitam di bawah matamu tak perlu ada.”
Sena merasa sedang berada di negeri dongeng. Di mana kupu-kupu warna-warni terbang riang ke sana kemari. Bunga-bunga tumbuh subur, ia ingin memetiknya satu-satu. Langit biru laut. Pohonan menyanyi pelan, suaranya merdu sampai di telinganya. Semua hal, semua hal seperti lukisan yang sangat indah.
“Kamu tahu kenapa aku selalu datang ke sini?”
Sena sedang melayang di keindahan yang tak ia bayangkan dapat ditemuinya pagi ini, di tempat yang selama ini tak luput dari pandangannya meski dari kejauhan. Matahari terang sekali, sampai ia merasa seseorang di sampingnya bisa menyerap semua cahaya yang silau dari timur itu. Ia menyipitkan mata.
“Hei, tahu tidak kenapa aku selalu datang ke sini?”
Seseorang di sampingnya itu pelan-pelan tampak memudar. Semuanya terlihat sangat terang. Nyaris seperti cahaya. Nyaris seluruhnya putih.
“Aku tak pernah melupakan janji yang pernah kuucapkan kepadamu.”
Suara itu entah datang dari mana, entah seseorang di sampingnya, atau seseorang di tempat yang jauh. Suara itu menggema. Nyaris tak bisa ia tangkap dengan kedua telinganya.
“Kamu ingat tidak, suatu hari aku pernah bertanya kepadamu, apa yang paling kamu sukai dari tubuhku, matamu, katamu. Lalu aku bertanya, kenapa? Matamu lebih terang dari matahari, katamu. Lalu aku bertanya lagi, kalau aku mati, bagaimana dong? Kamu menjawab dengan girang dan penuh keyakinan, akan kucongkel matamu dan kusimpan di almariku. Lantas kamu mencium kedua mataku, dan tertawa terbahak-bahak.... ”
Tak lama kemudian, Sena merasakan pandangannya perlahan normal. Ia melihat seseorang di depannya. Masih menatapnya dengan cara yang sama. Di pangkuannya sebuah kotak masih digenggam dengan cara yang sama. Di sudut kotak itu ia melihat warna merah merembes, sedikit demi sedikit, kemudian merah itu basah di tangan seseorang itu, lalu warna merah itu terus merembes, terus mengalir, tenggorokan Sena berat, ia melihat sepasang mata memandangnya, ia melihat sepasang mata memandangnya iba dari dalam kotak itu....
Tak berapa lama terdengar jeritan dari arah taman. Pak Satpam yang sedang mengantuk sebab berjaga semalaman sontak terbangun dan mencari sumber suara. Beberapa perawat yang sedang melintas di koridor bergegas menuju suara itu. Mereka semua melihat seorang lelaki muda sedang dengan kasar mengobrak-abrik kotak makanan dan bangku sembari memukulkannya keras kepada seseorang di sampingnya.
“Tolong, tolong saya....!”
Pak Satpam dan beberapa perawat mencengkeram kedua lengan Sena. Menarik tubuhnya. Membawanya ke kamar. Menyuntikkan obat penenang. Membiarkannya sendirian di dalam kamar.

***

“Mau ke sana lagi?”
“Ya.”
“Bahkan ia tidak mengingatmu.”

...........
Ia tahu. Ia cuma mengulang-ulang hari yang sama.


 Boja, 22 Maret 2014 00.07